Pemanfaatan tenaga anak untuk keuntungan pribadi atau yang disebut dengan eksploitasi sedang marak saat ini. Kali ini modus yang digunakan adalah menggunakan teknik program magang palsu. Kasus yang satu ini mulai tercium oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) beberapa hari lalu karena ternyata ada laporan kalau beberapa murid magang di negara tetangga Malaysia dipaksa bekerja tak sesuai keahlian.

Nah, maka dari itu sekarang semua orang yang mempunyai anak atau saudara berusia belia harus menjadi lebih waspada melihat kasus seperti ini. Sebab, pelaku eksploitasi anak bakal melakukan apa saja demi keuntungannya sendiri. Seperti contoh modus eksploitasi di bawah ini yang juga banyak terjadi di Indonesia.

Magang palsu yang menyasar anak-anak SMK di Indonesia

Kasus kejam ini merupakan modus baru dari eksploitasi anak yang untung saja cepat diketahui oleh KPAI. Adalah program magang palsu di luar negeri. Dengan iming-iming tanpa perlu menggunakan paspor dan kartu tenaga kerja luar negeri membuat pihak sekolah setuju terhadap perjanjian itu. Tak berpikir panjang, pihak sekolah langsung menyuruh anak-anak yang berprestasi untuk melakukan magang di luar negeri dengan harapan bisa mengharumkan nama baik institusinya.

Namun, harapan tersebut pupus seolah dibawa angin karena itu hanyalah program magang abal-abal. Anak didiknya yang diharapkan bisa memperoleh ilmu lebih, malah diperlakukan semena-mena. Para siswa yang berada di sana, harus menelan pil pahit dengan bekerja lebih dari 18 jam sehari sehingga membuat tenaga mereka terkuras habis. Tak hanya itu, gaji yang mereka peroleh tidak sesuai dengan pekerjaan mereka. Bisa dibilang gaji sangat kurang dari kata layak. Bahkan, pekerjaan mereka sangatlah tidak cocok dengan keahlian yang dimiliki.

Mengincar anak jalanan di bawah umur sebagai modus dari para pedofil

Saat ini pelaku dari eksploitasi tak lagi mengincar anak-anak yang berpenampilan bersih dan terawat. Tapi, para pelaku sudah menyasar anak-anak jalanan yang berkeliaran di jalan tanpa pengawasan dari orangtua. Mereka menganggap kalau dengan mengambil anak-anak jalanan, peristiwa eksploitasi ini akan lebih susah untuk dideteksi pihak yang berwajib. Sebab tidak banyak orang yang memperhatikan anak-anak jalanan ini.

Seperti kejadian di Jakarta Pusat pada awal tahun 2018 lalu, KPAI mengungkapkan kalau ada beberapa anak yang sudah ditawarkan kepada Warga Negara Asing (WNA). Tujuannya ya untuk diperjualbelikan kepada kaum pedofil di luar negeri. Jangan mengira kalau orang yang menawarkan adalah berasal dari luar negeri.Tapi ternyata adalah teman sebaya dari anak-anak jalanan itu sendiri. Mereka menawarkan teman-temannya kepada para WNA karena tergiur dengan uang yang cukup banyak.

Eksploitasi anak melalui media sosial

Modus selanjutnya yang digunakan oleh para pelaku eksploitasi anak adalah melalui media sosial. Dengan cara ini, mereka bisa lebih mudah untuk melakukan transaksi tanpa ada gangguan dari siapapun. Memang sih eksploitasi anak menggunakan media sosial lebih banyak tercium oleh pihak yang berwenang. Tapi, itu tidak menyurutkan mereka untuk mengulanginya lagi. Seperti kata pepatah, mati satu tumbuh seribu.

Kejadian mengenaskan ini ternyata paling banyak terjadi di Asia Tenggara yaitu di negara Thailand dan Filipina. Kedua negara tersebut memang menjadi sumber material online eksploitasi anak paling besar di Asia Tenggara. Bahkan, mirisnya lagi banyak anak yang melakukan live streaming tentang eksploitasi karena keinginan sendiri. Anak-anak tersebut berlaku seperti itu lantaran sudah terbiasa melihat fenomena eksploitasi yang tak pantas untuk dilihat itu. Nah, dari situlah banyak orang dari negara tersebut menyebarkan konten tak senonoh itu ke negeri berkembang, salah satunya adalah Indonesia. Maka dari itu, aparat keamanan sampai sekarang berusaha untuk membasmi sosial media yang berhubungan dengan eksploitasi anak.

Menempatkan anak di titik lokasi hiburan supaya sulit untuk dilacak

Untuk modus eksploitasi anak yang satu ini sangat susah untuk dideteksi. Sebab, modus ini menempatkan anak-anak tersebut di destinasi wisata yang amat ramai. Selain itu, media juga kurang berpartisipasi aktif dalam mengungkap kasus eksploitasi anak yang ditempatkan di kawasan wisata tersebut. Kebanyakan, para media sebagian besar masih menyalahkan anak-anak tersebut. Penyalahan tersebut didasarkan karena mereka mengira kalau anak-anak itu melakukan hal tak sepantasnya ini karena tuntutan ekonomi. Padahal, sebenarnya mereka hanyalah sebagai korban yang terpaksa melakukan ini.

Hal ini mirip sekali dengan kasus eksploitasi para tahun 2017 lalu. Ada sekitar dua kasus eksploitasi dalam satu bulan di daerah wisata yang tidak diketahui namanya. Mayoritas kasusnya didominasi oleh pencabulan dan perdagangan anak yang bertujuan untuk seksual. Kebanyakan para korban adalah anak-anak di bawah umur yang mengaku hanya disuruh oleh pihak terdekatnya. Namun, mereka hanya mendapatkan uang yang jauh dari kata cukup.

Modus eksploitasi anak seperti yang sudah disebutkan di atas memang sangat mengerikan. Para pelaku sampai menghalalkan segala cara untuk mendapatkan anak-anak tak bersalah tersebut. Anak-anak tersebut yang seharusnya mendapatkan kebebasan dalam hidup, malah disuruh untuk memuaskan keinginan para pelaku hanya demi uang. Oleh karena itu, untuk orang-orang yang mempunyai anak atau saudara berusia maksimal 17 tahun, harus hati-hati. Sebab, para pejahat eksploitasi sedang berkeliaran di mana-mana.

4 Modus Kejahatan Ini Adalah Bukti Betapa Mengerikannya Jadi Anak Kecil di Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *